dikutip : kamuscara.com Selamat berjumpa kembali di IndoTech.me, kali ini indotech akan berbagi lagi mengenai wirausaha, mungkin posti...
![]() |
| dikutip : kamuscara.com |
Selamat berjumpa kembali di IndoTech.me, kali ini indotech akan berbagi lagi mengenai wirausaha, mungkin postingan kali ini dapat memberi pembaca sekalian suatu manfaat. Wirausaha bagi sebagian orang adalah hal yang sulit namun beberapa orang sukses mengatakan mudah , dan yang lain bilang sangat menyenangkan namun disini indotech tidak akan memberikan kisah sukses seseoran, namun indotech akan membeberkan secara singkat mengenai kepemimpinan dalam kewirausahaan, baiklah langsung saja kita mulai cekidot!
Keberhasilan seorang wirausaha dalam bisnis tergantung bagaimana Ia memimpin organisasi usahanya dengan menggunakan pengaruh untuk memotivasi pengikut dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Gibson, Ivancevich, & Donnelly (1985 : P 334), mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang dalam mencapai tujuan tertentu.
Definisi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaan pengaruh dan karenanya semua hubungan dapat merupakan upaya kepemimpinan. Unsur kedua dari definisi ini, menyangkut pentingnya proses komunikasi. Kejelasan dan ketepatan komunikasi mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut.
Unsur lain dari definisi tersebut terfokus pada pencapaian tujuan perusahaannya.
Banyak definisi diberikan tentang kepemimpinan. Antara lain:
• George R. Terry, Leadership is the activity of influencing people to strive willingly for group objectives
• Horald Koontz and Cyril O’Donnell, Leadership is influencing people to follow in the achievement of common goal. (Hersey & Blanchard, 1977 : 84)
Menyimak masalah definisi-definisi diatas, 3 (tiga) variable penting bagi seorang wirausaha dalam meraih kesuksesan bisnisnya yaitu pertama, menggunakan pengaruh kedua, menciptakan komunikasi yang jelas dan dapat dipercaya ketiga, menetapkan pencapaian tujuan perusahaan dengan melihat dan mempertimbangkan tujuan kelompok dan tujuan individu. Kalau tiga-tiganya dijalankan dengan baik dan benar, maka seorang wirausaha telah menjadi seorang pemimpin yang efektif di perusahaannya dan tentunya akan meraih kesuksesan dalam usaha.
Menurut Buchari Alma (2005 : hal 148), ada suatu keunggulan wirausaha yang sukses dibandingkan dengan wirausaha yang gagal atau bangkrut yaitu terletak pada dinamika dan efektifitas kepemimpinan.
Hal ini dikuatkan dengan data statistik, dari perkembangan 100 perusahaan yang baru berdiri 50% gagal dalam jangka waktu 2 tahun dan pada akhir tahun kelima hanya tinggal 30 % yang masih jalan. Pada umumnya kegagalan ini disebabkan oleh kepemimpinan yang tidak efektif, mereka tidak mampu memimpin karyawan, tidak bisa kerjasama dengan orang lain atau mereka tidak menguasai, mengendalikan diri sendiri. Berbagai keliruan terjadi dibawah kepemimpinannya.
Misalnya karyawan tidak bisa dimotivasi untuk bekerja lebih baik, kurang disiplin, demikian pula dengan relasi perusahaan tidak terjalin kerja sama dengan baik, dan juga perilaku pemimpin itu sendiri yang tidak bisa menjadi contoh.
Dapat diambil kesimpulan dari pendapat diatas serta evaluasi dari perkembangan 100 perusahaan, bahwa seorang wirausaha yang baik adalah seorang pemimpim dalam bisnis, haruslah orang yang dapat menguasai dan mengembangkan diri sendiri, dan juga mampu menguasai serta mengarahkan dan mengembangkan para karyawannya. Inilah inti dari efektivitas kepemimpinan seorang wirausaha, bagaimana seorang wirausaha harus menjalankan 3 variabel penting yang tercakup dalam kepemimpinan untuk menuju wirausaha yang sukses sebagai berikut:
1. Menggunakan Pengaruh
Kepemimpinan adalah menyangkut penggunaan dan penanaman pengaruh dalam rangka memotivasi dan mengarahkan pegawainya. Bagaimana seorang wirausaha menanamkan dan menggunakan pengaruh pada saat yang tepat melalui faktor motivasi eksternal. Bahwa imbalan-imbalan dalam motivasi eksternal, merupakan alat yang digunakan oleh seorang wirausaha dalam rangka menanamkan dan menggunakan pengaruhnya. Pemberian imbalan-imbalan tersebut merupakan proses menanamkan pengaruh terhadap karyawan. Sedangkan penggunaan pengaruh merupakan proses dalam memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Apabila terjadi keseimbangan antara menanamkan dan menggunakan pengaruh yang dilakukan oleh seorang wirausaha maka karyawan akan merasa puas, kinerja individu meningkat dan ini yang dikatakan seorang pemimpin yang efektif dalam menanamkan dan menggunakan pengaruhnya.
2. Menciptakan komunikasi yang jelas dan dapat dipercaya.
Kejelasan dan ketepatan komunikasi mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut. Bahwa kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi kegiatan pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Maka proses komunikasi yang efektif perlu dipahami dan diciptakan oleh seorang wirausaha. Bagaimana seorang wirausaha menciptakan arus komunikasi yang efektif dalam perusahaannya, hal ini penting dilakukan karena pemeliharaan hubungan dengan karyawannya memerlukan komunikasi yang efektif. Terlepas dari organisasi perusahaannya besar atau kecil, penyelenggaraan komunikasi terus menerus merupakan suatu keharusan. Dikatakan demikian karena melalui komunikasi berbagai hal yang menyangkut kehidupan perusahaan disampaikan dari satu pihak ke pihak lain. Untuk lebih rinci bagaimana menciptakan komunikasi dan memahami arus komunikasi dalam praktek akan disampaikan .
3. Menetapkan pencapaian tujuan perusahaan.
Pemimpin yang efektif mungkin harus berurusan dengan tujuan individu karyawannya, kelompok dan organisasi perusahaan. Keefektifan pemimpin khususnya dipandang dengan ukuran tingkat pencapaian satu atau kombinasi tujuan tersebut. Individu mungkin memandang seorang pemimpin efiktif atau tidak dilihat dari sudut kepuasan yang mereka peroleh selama pengalaman kerja yang diikutinya.
Sebenarnya, penerimaan perintah atau permintaan seorang pemimpin sebagian besar terletak pada harapan para pengikut dimana tanggapan yang menyenangkan akan menimbulkan hasil yang menarik.
B. KEPEMIMPINAN MENURUT JENDELA JOHARI
Seorang calon wirusaha atau yang sudah berwirausaha kiranya perlu mengenal konsep kepemimpinan menurut jendela johari. Konsep ini ditulis oleh Joe & Harry yang diambil dari nama depan mereka dan kedua nama depan tersebut disatukan menjadi ― JOEHARRY ― atau ― JOHARI‖ yang dikenal menjadi ―Johari Window / Jendela Johari digunakan PAUL HERSEY dan KEN BLANCHARD untuk menggambarkan kepribadian kepemimpinan (bukan kepribadian secara keseluruhan).
Perbedaan antara kepribadian kepemimpinan dengan gaya kepemimpinan , dalam kaitan ini adalah :
1. Kepribadian kepemimpinan
2. Mencakup persepsi pribadi dan persepsi orang lain.
3. Gaya kepemimpinan :
4. Hanya mencakup perilaku kepemimpinan seseorang menurut persepsi orang lain (persepsi atasan,bawahan,rekan kerja dan sebagainya)
Dengan demikian kepribadian kepemimpinan ( Leadership personality ) sama dengan Swapersepsi ( persepsi sendiri ) ditambah persepsi orang lain ( gaya ).
Menurut konsep ini, terdapat sikap atau perilaku tertentu yang dilakukan dalam proses kepemimpinan :
a. Keperibadian kepemimpinan yang diketahui oleh pribadi sendiri pimpinan yang bersangkutan,bidang yang diketahuisendiri ini termasuk pengetahuan mereka tentang cara mereka memimpin orang lain ( dampak prilaku mereka terhadap orang orang yang dipengaruhinya atau yang dipimpinnya ).
b. Kepribadian kepemimpinan tidak diketahui oleh pemimpin yang bersangkutan, artinya dalam hal-hal tertentu pemimpin tidak mengetahui dampak perilakunya terhadap orang lain yang dipengaruhinya (hal itu dapat terjadi karena yang dipengaruhinya belum menyampikan balikan atau masukan kepada pemimpin atau mungkin karena pemimpin tidak cukup waspada menangkap balikan itu).
c. Dalam kepribadian kepemimpinan juga tercakup perilaku dan sikap yang diketahui orang lain dalam lingkungan organisasiserta yang tidak diketahui orang lain. Dalam hubungannya dengan hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui sendiri serta hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui orang lain, kita dapat membentuk empat bidang yang membentuk itu secara keseluruhan, Adalah bidang yang tidak diketahui sendiri(pimpinan) tetapi diketahui oleh orang lain,diacu sebagai bidang buta. Hal ini tidak diketahui pemimpin boleh jadi karena pengikut tidak mau menyampaikan balikan/masukan/informasi tentang kepmimpinanya,atau mungkin juga data tentang hal itu dalam verbal atau non verbal tetapi pemimpin tidak dapat atau tidak memperdulikan hal itu.
Balikan (Feedback) dan penyingkapan (Disclosure).
Ada dua proses yang mempengaruhi bentuk jendela Johari (Konfigurasi keempat bidang), yaitu :
1. Prose slang berlangsung pada arah / ke arah kanan,dan itu disebut proses Balikan. Proses ini menunjukkan kadar sejauh mana orang lain dalam organisasi mau berbagi informasi dengan pemimpin tentang prilakunya terhadap orang lain.
Hal ini menunjukan kemauan orang lain untuk bersikap terbuka dan kemauan memberikan balikan yang relevan kepada pemimpin,tetapi perilaku dinyatakan bahwa anda harus memandang dari perspektif kedua belah pihak. Proses ini juga menunjkan kadar sejauh mana upaya pemimpin mempersepsikan balikan verbal dan non verbal yang ada dalam lingkungannya.
2. Proses lain yang mempengaruhi bentuk jendela Johari adalah proses yang berlangsung ke arah bawah, dan proses ini disebut Penyingkapan.Penyingkapan adalah kadar sejauh mana pemimpin mau berbagi data tentang diri mereka sendiri kepada orang lain dalam organisasi.
Penggunaan istilah Penyingkapan dalam hal ini adalah :
a.Hal-hal yang terungkap dari prilaku orang lain;dan untuk memahami perilaku orang-orang secara lebih baik kita harus benar-benar mengamati perilaku mereka untuk mengetahui nilai-nilai dan hal-hal yang diwakili perilaku itu.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa kita harus berhati-hati dengan kata-kata bukan kata=kata yang penting tetapi perilaku orang-orang yang mengeluarkan kata-kata itu.
Pergerakan kulit hitam,mahasiswa,dan kelompok-kelompok lain yang memperjuangkan hak-hak mereka.
b. Penyingkapan hanya penting apabila hal itu relevan bagi organisasi.
Pengalaman yang diperoleh Paul dan Hersey dari berbagai interverensi pengembangan organisasi yang paling langka adalah waktu dan energi,oleh karena itu apabila orang-orang menyingkapkan hampir semua hal tentang diri mereka sendiri dalam organisasi dan orang-orang menyediakan waktu mengolanya, maka tidak akan banyak lagi waktu tersedia untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Oleh sebab itu penyingkapan penting dan bermanfaat bagi organisasi sepanjang hal itu relevandengan upaya pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
Contoh :
Seorang manager memiliki masalah dengan tetangganya di rumah,hal itu tidak perlu / tempat menyingkapkan atau mendiskusikansituasi tersebut dalam lingkungan kerjanya, tetapi mungkin atau sangat tepat mengungkapkan,membicarakan,dan menyelesaikan hal itu dirumahnya.
Olehn sebab itu hal-hal yang relevan secara organisasi dalam suatu lingkungan boleh jadi tidak relevan dengan lingkungan yang lain.
Dalam proses penyingkapan,makin relevan informasi yang diungkapkan pemimpin tentang cara mereka berfikir dan berperilaku akan makin meluas bidang umum dan melebar ke bidang pribadi serta makain kecil pula jadinya bidang pribadi (seperti gambar dibawah ini).
Gejala yang menarik terjadi dalam lingkungan dimana terdapat balikan dan penyingkapan simultan antara pemimpin dan orang-orang.
Jika demikian halnya, tidak hanya bidang umum pemimpin yang dengan sendirinya maluas ke dalam bidang buta dan pribadi,tetapi kemungkinan besar terjadi bahwa hal-hal yang terjadinya tidak diketahui (baik tidak diketahui oleh pemimpin maupun tidak diketahui oleh orang lain dalam organisasi / BIDANG BUTA ) akan mulai muncul kepermukaan bidang umum.
Contoh :
Psikater yang sedang melakukan upaya penyembuhan seorang pasien dalam psikoterapi barharap menciptakan lingkungan dimana terjadi proses BALIKAN dan PENYINGKAPAN secara SIMULTAN. Apabila hal itu terjadi, psikater itu dapat mulai mengungkapkan dan memahami gejala tertentu yang telah menumbulkan perilaku pasien yang sebelumnya gelap bagi keduanya (pasien dan psikater)
D. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
Dari semua kelompok di mana anda termasuk di dalamnya keluarga, tim olah raga, perkumpilan sosial, unit kerja terdapat seseorang yang lebih berpengaruh dibandingkan yang lainnya. Orang yang paling berpengaruh dalam kelompok tersebut mungkin disebut pemimpin.
Para pemimpin sangat penting dalam berbagai lingkungan organisasi. Sebenarnya, organisasi akan menjadi kurang efesien tanpa pemimpin, dan dalam kasus yang sangat ekstrim organisasi tidak akan mampu mencapai tujuan yang ditentukan. Untuk alasan ini dan alasan lain yang serupa, kepemimpinan telah menjadi pusat perhatian para ahli teori, peneliti, dan praktikus.
Meskipun kepemimpinan itu penting dan telah dipelajari oleh para ilmuwan keperilakuan selama beberapa dasawarsa, tetapi konsep itu sendiri masih merupakan suatu misteri. Bahkan setelahterkumpul ribuan peneliti pun, masih be lum ada kesepakatan di antara para ahli tentang apa sebenarnya kepemimpinan itu dan bagaimana cara menganalisis kepemimpinan.
Bab ini akan mengkaji kepemimpinan dalam lingkungan organisasi. Sejumlah perspektif yang agak berbeda tentang kepemimpinan akan disajikan. Masing-masing perspektif akan dibahas secara teoritis, empiris, dan dari sudut pandang nilai penerapannya. Jenis penjelasan ini akan mengungkapkan bahwa (1) kepemimpinan tidak sama dengan manajemen; (2) kepemimpinan adalah konsep yang rumit, (3) sifat-sifat kepemimpinan dapat dikembangkan melalui pengalaman, pelatihan, dan analisis; (4) keefektifan kepemimpinan terutama bergantung pada kecocokan antara pemimpin, pengikut, dan situasi; dan (5) kepemimpinan berubah-ubah dalam berbagai lingkungan dan situasi – yaitu dalam beberapa situasi kepemimpinan bukan merupakan hal yang penting atau bukan suatu pengaruh yang signifikan.
Gagasan bahwa kepemimpinan sinonim dengan manajemen tidak sahih sama sekali. Kepemimpinan adalah konsep yang lebih sempit dibandingkan dengan manajemen. Seorang manajer dalam organisasi formal bertanggung jawab dan dipercaya melaksanakan berbagai fungsi seperti perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), dan pengendalian (controlling). Akan tetapi, pemimpin juga ada dalam kelompok informal. Pemimpin informal tidak selalu manajer formal yang melaksanakan fungsi manajerial yang diharuskan organisasi. Konsekuensinya, hanya dalam beberapa hal saja pemimpin yang secara aktual berkedudukan sebagai manajer.
Konsep peranan yang menguraikan perilaku kelompok. Dalam organisasi formal, peranan sering mempunyai kaitan tanggung jawab khusus. Misalnya, peranan penyeliaan (supervisi) lini pertama dapat menunjukkan bahwa poemegang peranan bertanggung jawab atas tingkat dan kualitas produksi yang dikerjakan oleh kelompok karyawan tertentu. Tepatnya bagaimana cara penyelia memenuhi tanggung jawab tersebut merupakan gaya pemegang peranan. Beberapa penyelia lini pertama mengandalkan wewenang kedudukannya dalam menjamin adanya pematuhan standar prestasi, sedangkan yang lainnya menggunakan pendekatan yang lebih partisipatif yang melibatkan pengambilan keputusan bersama antara pemimpin (manajer) dan pengikut (bawahan).
Disamping itu, juga terdapat hirarki peranan dalam kelompok informal. Pemimpin informal diterima sebagai orang yang melaksanakan kewajiban yang timbul dari kedudukan tersebut. Sekali lagi, bagaimana cara pemimpin menimbulkan kepatuhan pengikut untuk sebagian besar akan bergantung pada gaya kepemimpinan yang digunakan. Apa yang efektif untuk seorang pemimpin mungkin tidak efektif untuk yang lainnya. Pada dasarnya inti masalah kepemimpinan adalah: Apa yang membuat kepemimpinan efektif? Sebagaimana yang telah dikemukakan, tidak ada jawaban sederhana atau jawaban tunggal untuk pertanyaan yang penting ini.
DEFINISI KEPEMIMPINAN
Kelima basis kekuasaan antar pribadi yang dibahas dalam Bab X mengungkapkan bahwa kekuasaan dapat didefinisikan sebagai kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain. Jika seseorang mencoba mempengaruhi perilaku sesuatu kelompok tanpa menggunakan bentuk kekuasaan, kita menggambarkan hal tersebut sebagai upaya kepemimpinan. ―Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi kegiatan pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu.‖
Definisi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaan pengaruh dan karenanya semua hubungan dapat merupakan upaya kepemimpinan. Unsur kedua dari definisi itu menyangkut pentingnya proses komunikasi. Kejelasan dan ketepatan komunikasi mempengaruhi perilaku dan prestasi pengikut.
Unsur lain dalam definisi tersebut berfokus pada pencapaian tujuan. Pemimpin yang efektif mungkin harus berurusan dengan tujuan individu, kelompok dan organisasi. Keefektifan pemimpin khususnya dipandang dengan ukuran tingkat pencapaian satu atau kombinasi tujuan tersebut. Individu mungkin memandang seorang pemimpin sebagai efektif atau tidak efektif dari sudut kepuasan yang mereka peroleh selama pengalaman kerja secara menyeluruh.
Sebenarnya, penerimaan perintah atau permintaan seorang pemimpin sebagian besar terletak pada harapan para pengikut di mana tanggapan yang menyenangkan akan menimbulkan hasil yang menarik.
Kekuasaan berdasarkan imbalan dan legitimasi terutama ditentukan oleh peranan individu dalam suatu hirarki. Peranan ini tentunya boleh jadi terdapat dalam kelompok formal atau informal. Tingkat dan cakupan kekuasaan keahlian dan kekuasaan referen pemimpin terutama ditentukan oleh ciri-ciri pribadi. Beberapa pemimpin, karena kesukaran kepribadian dan komunikasi, tidak dapat mempengaruhi orang lain melalui kekuasaan keahlian atau referen.
Skor dari Lima Pemimpin: Pemrakarsaan, Struktur dan Pertimbangan
Gambar tersebut juga menyajikan beberapa faktor penengah (moderator) yang mungkin terdapat antara sumber dan persepsi basis kekuasaan dan hasil (tujuan). Gambar tersebut menunjukkan bahwa (1) pemimpin yang berhasil adalah seorang yang waspada akan sumber kekuasaan dan pentingnya persepsi tentang kekuasaan; (2) pemimpin tersebut tidak mengandalkan kekuasaan paksaan, (3) sumber kekuasaan seorang pemimpin meliputi tempat, waktu, serta informasi dan karakteristik kepribadian; dan (4) pencapaian tujuan tidak hanya akan tergantung pada sumber dan persepsi kekuasaan, tetapi juga pada kebutuhan para pengikut, situasi, dan pengalaman pemimpin yang bersangkutan.
Kami setuju dengan posisi ―argumentasi kontra‖ dalam Perdebatan Isyu Organisasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa pernyataan tentang kepemimpinan yang digeneralisasi dengan hanya mempelajari 250 manajer tidak menghasilkan peningkatan pemahaman tentang kepemimpinan. Uraian dan daftar tidak begitu membantu untuk menghasilkan suatu gambaran kepemimpinan seperti yang dipraktekkan dalam organisasi. Gambar 10 – 1 lebih bermanfaat daripada sekedar menggunakan uraian tentang kepemimpinan. Gambar tersebut mengandung perhatian terhadap sumber kekuasaan yang digunakan pemimpin, faktor-faktor yang mengantarai keefektifan pemimpin, dan tujuan perilaku kepemimpinan. Jenis perspektif ini lebih bermanfaat daripada sekedar mengklasifikasikan individu sebagai manusia pemain atau petarung di hutan. Kita perlu menjelaskan, memahami, dan menelusuri perilaku manusia pemain dan prestasinya.
TEORI SIFAT
Banyak karya terdahulu tentang kepemimpinan menitikberatkan pengidentifikasian ciri-ciri pemimpin yang efektif. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa dapat ditemukan sejumlah ciri individu terbatas dari pemimpin yang efektif. Jadi, sebagian besar riset dirancang untuk mengidentifikasi ciri-ciri intelektual, emosional, fisik, dan ciri-ciri pribadi lainnya dari pemimpin yang berhasil. Unsur-unsur testing kepegawaian dari manajemen keilmuan dalam kadar yang signifikan, mendukung teori sifat kepemimpinan. Selain ditelaah melalui testing kepegawaian, ciri-ciri pemimpin juga telah diteliti berdasarkan pengamatan perilaku dalam situasi kelompok, pilihan kolega (pemilihan), penunjukan peringkat oleh pengamat, dan analisis data biografis.
Kecerdasan (Intelligence)
Setelah meninjau sejumlah 33 hasil penelitian, Stogdill menemukan suatu kecenderungan umum yang menunjukkan bahwa pemimpin lebih cerdas dari pengikutnya. Salah satu penemuan yang penting ialah bahwa perbedaan kecerdasan yang menyolok antara pemimpin dan pengikutnya mungkin akan tidak fungsional. Misalnya, seorang pemimpin yang IQ nya relatif tinggi, yang mencoba mempengaruhi suatu kelompok yang anggotanya mempunyai IQ rata-rata, mungkin tidak dapat memahami mengapa anggota kelompok tersebut tidak memahami masalah yang dihadapi. Selain itu, pemimpin semacam itu mungkin mendapat kesukaran untuk mengkomunikasikan gagasan dan kebijaksanaannya. Terlalu pandai pun dapat menimbulkan masalah dalam situasi tertentu.
Kepribadian (Personality)
Beberapa hasil riset menunjukkan bahwa sifat kepribadian seperti keuletan, orisinalitas, integritas pribadi, dan kepercayaan diri berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif.
Ghiselli melaporkan beberapa sifat kepribadian yang cenderung dikaitkan dengan keefektifan pemimpin.
Misalnya, ia menemukan bahwa inisiatif dan kemampuan untuk bertindak dan memprakarsai tindakan secara mandiri berkaitan dengan tingkat dalam organisasi responden. Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin penting pula sifat ini. Ghiselli juga menemukan bahwa keyakinan diri (self assurance) berkaitan dengan posisi hirarkis dalam organisasi.
Akhirnya, ia menemukan bahwa individu yang menampilkan kepribadiannya adalah pemimpin yang paling efektif. Beberapa penulis mengemukakan bahwa kepribadian tidak ada kaitannya dengan kepemimpinan. Pandangan ini terlalu mengganggu jika kita mempertimbangkan bahwa kepribadian telah terbukti berkaitan dengan persepsi, sikap, belajar, dan motivasi.
Masalahnya ialah upaya menemukan cara yang sahih untuk mengukur sifat kepribadian. Tujuan ini sulit dicapai, tetapi meskipun lambat, sudah ada kemajuan.
Karakteristik Fisik (Physical Characteristics)
Studi tentang hubungan antara kepemimpinan yang efektif dengan karakteristik fisik seperti umur, tinggi, dan berat badan, dan penampilan mengungkapkan hasil yang bertentangan.
Tubuh yang terlalu tinggi dan terlalu berat dibanding rata-rata kelompok tentunya tidak menguntungkan untuk mencapai posisi kepemimpinan. Akan tetapi, banyak organisasi yang membutuhkan orang dengan fisik yang besar untuk menjamin kepatuhan pengikutnya. Dugaan ini terlalu menekankan kekuasaan berdasarkan paksaan dan ketakutan. Di lain pihak, Truman, Gandhi, Napoleon, dan Stalin adalah contoh individu berperawakan kecil yang muncul sebagai pemimpin.
Kemampuan Supervisi
Dengan menggunakan pengharkatan pemimpin, Ghiselli menemukan adanya hubungan positif antara kemampuan supervisi seseorang dengan tingkat dalam hirarki organisasi. Kemampuan supervisi didefinisikan sebagai ―pendayagunaan segala bentuk praktek supervisi secara efektif ditunjukkan oleh persyaratan situasi tertentu. Sekali lagi, diperlukan ukuran konsep, dan ini adalah masalah yang sulit dipecahkan.
Ringkasan dari sifat-sifat pemimpin yang paling banyak diteliti disajikan dalam Tabel 10 – 1.
Ringkasan tersebut merangkum semua ciri yang telah ditemukan paling besar kemungkinannya menjadi ciri pemimpin yang sukses. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ciri-ciri tersebut menyumbang bagi keberhasilan kepemimpinan.
Tabel 10 – 1
Baik mungkin segini saja yang dapat indotech bagi untuk pembaca, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Sampai Jumpa !!!



COMMENTS