Selamat berjumpa kembali di Indotech.me, pembaca apakah kalian pernah mengalami stress? pasti pernah ya, hahaha, kali ini Indotech.me ...
Selamat berjumpa kembali di Indotech.me, pembaca apakah kalian pernah mengalami stress? pasti pernah ya, hahaha, kali ini Indotech.me akan membahas mengenai stress dan pekerjaan. Sudah penasaran kan bagaimana ? Oke Cekidot!
APAKAH STRESS ITU ?
Stress berarti suatu
urutan hal-hal yang sangat berbeda bagi orang yang berada. Para usahawan
memandang stress sebagai frustasi atau ketegangan emosional; pengawas lalu
lintas udara memandangnya sebagai masalah kesiap siagaan dan kosentrasi; ahli
biokimia memandangnya sebagai suatu kejadian kimia murni. Secara sederhana,
lebih baik memandang stress sebagai sesuatu yang melibatkan interaksi antara
individu dengan lingkungan. Kebanyakan definisi tentang stress mengakui
individu dan lingkungan tersebut dengan ukuran interaksi stimulus, interaksi
tanggapan, atau interaksi tanggapan dengan stimulus.
Definisi Stimulus
Definisi stimulus
stress adalah sebagai berikut: Stress adalah kekuatan atau stimulus yang menggerakkan
individu sehingga menghasilkan suatu tanggapan ketegangan, di mana ketegangan
tersebut dalam pengertian fisik, mengalami perubahan bentuk. Persoalan yang
timbul dari definisi ini ialah bahwa tidak berhasil mengakui bahwa dua orang
yang menjadi sasaran tingkatan stress yang sama mungkin menunjukkan tingkat
ketegangan yang berbeda.
Definisi Tanggapan (Respon)
Definisi stress
adalah sebagai berikut: Stress adalah tanggapan fisiologis atau psikologis
seseorang terhadap lingkungan penekan (stressors), di mana penekan adalah
kejadian ekstern atau situasi yang secara potensial mengganggu. Dalam definisi
stimulus, stress adalah kejadian ekstern, di sini ia adalah tanggapan intern.
Definisi ini tidak berhasil memungkinkan setiap orang untuk meramal sifat
tanggapan stress atau bahkan apakah tanggapan tersebut akan benar-benar ada.
Definisi Tanggapan Stimulus
Contoh definisi
tanggapan stimulus adalah bahwa stress merupakan konsekuensi dari interaksi antara
stimulus lingkungan dan tanggapan dari individu yang bersangkutan. Stress
dipandang lebih dari sekedar stimulus atau tanggapan; strss adalah hasil dari
suatu interaksi yang unik antara kondisi stimulus dalam lingkungan dan
kecenderungan individu mrnanggapi dengan cara tertentu.
Definisi Kerja
Masing-masing dari
ketiga definisi tersebut mengajukan wawasan tentang hal-hal yang menimbulkan
stress. Oleh karena itu, masing-masing digunakan untuk mengembangkan suatu
definisi kerja untuk bab ini. Kami mendifinisikan stress sebagai :
Suatu tanggapan
adaptif, ditengahi oleh perbedaan individual dan/atau proses psikologis, yaitu,
suatu konsekuensi dari setiap kegiatan (lingkungan), situasi atau kejadian
eksternal yang membenahi tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan
terhadap seseorang.
Definisi kerja ini
melukiskan strss dalam suatu gambaran yang lebih negatif dibandingkan dengan
kebanyakan definisi lainnya, yang menempatkannya sebagai suatu istilah netral.
Akan tetapi, kita telah memasukkan istilah berlebihan dalam definisi kita.
Tentunya tidak semua stress bersifast negatif. Stress yang positif, yang
dikemukakan oleh Dr. Hans Selye, ialah eustress (dari kata Yunani eu, yang
berarti baik, sebagai euphoria) yang mendorong dalam pengertian positif.
Eustress diperlukan dalam kehidupan kita. Akan tetapi, karena terbatasnya
tempat kita tidak dapat mengembangkan pembahasan kita tentang eustress dalam
bab ini. Definisi kerja di atas
memungkinkan kita memusatkan perhatian atas kondisi lingkungan yang khas
sebagai sumber stress yang potensial. Kondisi semacam itu disebit penekan (stressors).
Apakah stress tersebut dirasakan atau dialami oleh seseorang atau tidak akan
tergantung pada karakteristik orang yang bersangkutan. Selanjutnya definisi
tersebut menekankan suatu tanggapan adaptif. Sebagian besar tanggapan kita
terhadap stimulus dalam lingkungan kerja tidak memerlukan adaptasi, dan
karenanya bukab sumber stress yang benar-benar potensial.
Suatu hal yang perlu
diingat adalah keanekaragaman situasi yang tidak serupa, upaya kerja,
kejenuhan, ketidakpastian, ketakutan, timbulnya emosi dapat menimbulkan stress.
Oleh karena itu sangat sukar mengisolasi faktor tunggal sebagai penyebab
satu-satunya.
STRESS PSIKOFISIOLOGI
Jika karena sesuatu
alasan tanpa sengaja tangan anda menyentuh kompor yang panas, beberapa kejadian
yang dapat diramalkan akan terjadi. Anda akan merasa sakit. Dan juga akan ada
kerusakan jaringan kulit yang terkena kompor tersebut. Tergantung pada waktu reaksi
anda, anda akan segera menarik tangan dari kompor. Mungkin anda melontarkan
kata-kata tertentu.
Kejadian tersebut
menggambarkan suatu interaksi antara anda dengan lingkungan itu adalah suatu
kejadian yang mengakibatkan konsekuensi fisik dan psikologis. Hal tersebut juga
merupakan kejadian yang memproyeksikan tentang pengertian stress dan cara kita
menanggapinya secara fisik dan psikologis.
Sindrom Adaptasi Umum (GAS)
Dr. Hans Selye,
pelopor riset tentang stress menyusun konsep tanggapan psikofisiologis terhadap
stress. Selye menganggap stress sebagai tanggapan yang tidak khas terhadap
setiap tuntutan terhadap organisme. Ia memberi nama ketiga fase reaksi
pertahanan yang dibentuk seseorang jika terjadi stress sebagai Sindrom Adaptasi
Umum (GAS). Selye menyebut reaksi pertahanan tersebut sebagai umum karena
penekan menimbulkan dampak atas beberapa bagian dari tubuh; adaptasi menunjukkan
suatu rangsangan pertahanan yang dirancang untuk membantu tubuh menyeselaikan
atau menanggulangi penekan; dan sindrom menunjukkan bahwa bagian-bagian reaksi
yang terjadi lebih kurang bersamaan. Ketiga fase yang berbeda tersebut diacu
sebagai peringatan, perlawanan, dan peredaran.
Tahap peringatan (alarm
stage) adalah awal pengerahan dimana tubuh bertemu tantangan yang ditimbulkan
penekan. Jika penekan sudah dikenali, otak segera mengirim suatu pesan biokimia
ke seluruh sistem dalam tubuh. Denyut jantung meningkat, tekanan darah menaik,
pupil mata membesar, otot menegang dan sebagainya.
Jika penekan
berlanjut, GAS maju ke tahap perlawanan. Tandatanda yang menunjukkan tahap
perlawanan mencakup kejenuhan, kecemasan, dan ketegangan. Orang tersebut
sekarang sedang berjuang melawan penekan. Jika perlawanan terhadap penekan
tertentu kuat selama periode ini, perlawanan terhadap penekan lain lemah.
Seseorang hanya mempunyai sumber tenaga, kosentrasi, dan kemampuan terbatas.
Individu sering lebih mudah sakit selama periode stress tersebut dibandingkan
pada waktu-waktu lainnya.
Tahap GAS yang
terakhir ialah peredaan (exhaustion). Perlawanan yang panjang dan terus-menerus
terhadap penekan yang sama pada akhirnya mungkin menghabiskan adaptif yang
tersedia, dan sistem perlawanan terhadap penekan menjadi kendur. Ketiga tahapan
GAS itu disajikan dalam Gambar
6 – 1.
Gambar 6 – 1

Sangat penting untuk
selalu diingat, bahwa pengaktifan GAS menempatkan tuntutan yang luar biasa
terhadap tubuh. Jelasnya, semakin sering GAS diaktifkan dan semakinlama ia
bekerja, semakin usang dan rusak mekanisme psikofisiologis. Tubuh dan otak
mempunyai keterbatasan. Semakin sering seseorang mendapat ancaman, melawan, dan
terkuras oleh pekerjaan, atau bukan pekerjaan, atau oleh interaksi dari
kegiatan tersebut, semakin cenderung orang yang bersangkutan menjadi jenuh,
sakit, kuyu, dan berbagai konsekuensi negatif lainnya.
STRESS DAN KERJA: SEBUAH MODEL
Bagi sebagian besar
individu yang bekerja, bekerja itu lebih dari sekedar kewajiban 40 jam
seminggu. Bahkan jika waktu kerja yang nyata 40 jam, jika kegiatan yang
berkaitan dengan pekerjaan tersebut ditambahkan seperti waktu perjalanan kedan
dari tempt kerja, persiapan untuk bekerja, dan waktu makan siang maka
kebanyakan individu mempergunakan 10 jam atau lebih seharinya untuk berbagai
kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
Tidak hanya jumlah
waktu yang banyak dipakai untuk kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan,
tetapi banyak individu menemukan porsi penting kepuasan mereka dan identitas
dalam pekerjaannya.
Konsekuensinya, kegiatan kerja dan nonkerja saling
bergantung. Perbedaan antara stress di tempat kerja dan stress di rumah adalah
sesuatu tiruan dalam keadaan paling baik. Sumber stress di tempat kerja
tercurah ke dalam kegiatan nonkerja seseorang. Sebagai konsekuensi adanya
penekan yang dialami di tempat kerja, seseorang mungkin pulang ke rumah dengan
perasaan terganggu, marah dan letih. Hal ini dapat mengakibatkan cekcok dengan isteri atau suami. Konflik perkawinan
dapat menjadi sumber stress berikutnya yang pada gilirannya menimbulkan dampak
negatif atas prestasi kerja. Jadi, stress di tempat kerja dan stress di luar
kerja sering berkaitan. Akan tetapi, kepentingan kita dalam hal ini berkenan
dengan penekan (stressors) ditempat kerja.
Agar dapat memahami
lebih baik kaitan antara stressor, stress, dan konsekuensinya, kita telah
mengembangkan suatu model integrasi antara stress dan kerja. Perspektif
manajerial digunakan untuk mengembangkan bagian-bagian dari model yang
ditunjukkan pada Gambar 6 – 2. Mode l tersebut membagi stressor di tempat kerja
ke dalam empat kategori: fisik, individual, kelompok, dan organisasi. Model itu
juga menyajikan lima kategori dampak stress yang potensial. Dalam buku ini,
secara khusus kita akan menekankan perhatian terhadap dampak yang mempengaruhi
prestasi kerja.
Model tersebut
memperkenalkan moderator (penengah). Moderator yang telah diteliti oleh para
peneliti stress pekerjaan meliputi umur, jenis kelamin, ketagihan kerja, harga
diri, dan keterlibatan dalam lingkungan masyarakat. Kami memilih untuk membahas
tiga moderator yang telah menerima paling banyak perhatian dalam riset, yaitu
Pola Perilaku Tipe A, kejadian-kejadian perubahan dalam hidup (life change
events), dan dukungan sosial (social support).
Konsekuensi Stress
Pengerahan mekanisme
pertahanan tubuh bukanlah satu-satunya konsekuensi potensial yang timbul dari
adanya kontak dengan stressor. Dampak stress sangat banyak dan beragam.
Gambar 6 – 2
Stress dan Pekerjaan : Sebuah Model Kerja
KEPERILAKUAN
Mudah
mendapat kecelakaan
|
KOGNITIF
Ketidak mampuan membuat
|
SUBJEKTIF
Kecemasan
|
Stressor
di tempat kerja
Konsekuensi atau

Stressor Keorganisasian
Ketiadaan
partisipasi; Struktur Organisasi, tingkat jabatan, dan ketiadaan
kebijaksanaan yang jelas.
|
FISIOLOGIS
Meningkatkan
tekanan darah
|
KEORGANISASIAN
Produktivitas
rendah
|
Tentunya beberapa
di antaranya bersifat positif seperti motivasi diri, rangsangan untuk kerja
keras, meningkatnya inspirasi untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. Akan
tetapi, banyak juga stressor yang sifatnya mengganggu dan secara potensial
berbahaya. Cox telah mengidentifikasi 5 jenis konsekuensi dampak stress yang
potensial. Kategori yang disusun Cox meliputi :
Dampak
subyektif: Kecemasan, agresi, acuh, kebosanan, depresi, keletihan, frustasi,
kehilangan kesabaran, rendah diri, gugup, merasa kesepian.
Dampak perilaku
(Behavioral effects): Kecenderungan mendapat kecelakaan, alkoholik, penyalah
gunaan obat-obatan, emosi yang tiba-tiba meledak, makan berlebihan, merokok
berlebihan, perilaku yang mengikuti kata hati, ketawa gugup.
Dampak
kognitif: Ketidakmampuan mengambil keputusan yang jelas, kosentrasi yang buruk,
rentang perhatian yang pendek, sangat peka terhadap kritik, rintangan mental.
Dampak
fisiologis: Meningkatnya kadar gula, meningkatnya denyut jantung dan tekanan
darah, kekeringan di mulut, berkeringat, membesarnya pupil mata, tubuh panas
dingin.
Dampak
organisasi: Keabsenan, pergantian karyawan, rendahnya produktivitas,
keterasingan dari rekan sekerja, ketidakpuasan kerja, menurunnya keikatan dan
kesetiaan terhadap organisasi.
Kelima jenis tersebut
tidak mencakup seluruhnya, juga tidak terbatas pada dampak-dampak dimana ada
kesepakatan universal dan untuk hal itu ada bukti ilmiah yang jelas, kesemuanya
hanya mewakili beberapa dampak potensial yang sering dikaitkan dengan
stress.
Akan tetapi, jangan diartikan bahwa
stress selalu menyebabkan dampak seperti yang disebutkan di atas.
Dari perspektif
manajerial, masing-masing dari kelima kategori dampak stress seperti yang
digambarkan dalam Gambar 6 – 2 adalah penting. Akan tetapi, pengunduran diri
dan perilaku yang nonproduktif seperti keabsenan, pergantian karyawan,
alkoholik, dan penyalahgunaan obat-obatan, merupakan dampak yang mengganggu
diukur dari hilangnya produktivitas dan biaya.
Pengunduran Diri (Withdrawal). Ketidakhadiran dan keluar
dari pekerjaan adalah dua bentuk perilaku pengunduran diri yang untuk sementara
dapat mengurangi stress pekerjaan dalam beberapa hal. Beberapa penelitian
menunjukkan adanya hubungan antara stress pekerjaan dengan keabsenan dan
pergantian karyawan. Sebagai contoh, suatu studi menunjukkan bahwa dalam jangka
waktu 15 tahun terdapat peningkatan 22 persen dalam keabsenan dan pergantian
karyawan yang disebabkan masalah kesehatan fisik, sedangkan keabsenan yang
dikaitkan dengan masalah kesehatan psikologis meningkat 152 persen untuk pria
dan 302 persen untuk wanita. Suatu studi
terhadap 175 karyawan rumah sakit mengkaji stress sebagai satu penduga
(predictor) pergantian pegawai. Kewajiban keorganisasian, kepuasan kerja, dan
kondisi kerja tidak dapat menduga adanya pergantian karyawan. Akan tetapi,
tingkat stress yang tinggi merupakan suatu penduga yang penting dari tindakan
meninggalkan rumah sakit. Para peneliti menyimpulkan bahwa karyawan yang
tingkat stressnya rendah mempunyai harapan masa jabatan yang lebih lama di
rumah sakit itu.
Kecanduan Alkohol (Alcoholism). Kecanduan alkohol adalah
suatu penyakit yang dicirikan oleh minum alkohol berlebihan dan berulang-ulang
yang mengganggu kesehatan individu dan perilaku kerja. Mungkin tidak ada satu
faktor pun yang dapat menyebabkan kecanduan alkohol, karena hal itu merupakan
satu kesatuan yang rumit. Diukur dari segi biaya masyarakat dan hilangnya
produktivitas, kecanduan alkohol merupakan penyakit yang mahal.
Angka bunuh diri di antara para pecandu alkohol 58 kali
angka bunuh diri karena alasan lainnya. Kerugian biaya yang diukur dengan
hilangnya hari kerja dan bakat yang disia-siakan diperkirakan lebih dari $10
milyar setiap tahunnya. North American Rockwell Corporation yang mempunyai
100.000 karyawan, memasukkan biaya sebesar $250 juta untuk penanggulangan
kecanduan alkohol dalam anggaran belanjanya. The lllinois Bell Telephone
Company menetapkan upah pergantin karyawan disebabkan kecanduan alkohol sebesar
$418.500. Untuk membendung pengeluaran biaya semacam ini, makin banyak
pengusaha yang menyusun program pengawasan alkohol. Lebih dari 12.000 program
bantuan jabatan dilaksanakan dalam berbagai organisasi.
Tidak terdapat bukti
adanya korelasi jenis stress kerja tertentu dengan penggunaan alkohol sebagai
suatu tanggapan atas stress. Akan tetapi, para peneliti telah menemukan bahwa
para pecandu alkohol mempunyai kebutuhan yang tinggi akan dukungan emosional,
mengajukan tuntutan yang agresif, mengambil keputusan dengan mudah karena
mengikuti kehendak hati, dan terlibat dalam usaha pengawasan dengan cara
menekan. Sangat mengherankan, kecanduan alkohol tidak selalu diikuti oleh
memburuknya prestasi kerja pada tahap awal penyakit tersebut. Pada saat
penyakit tersebut berkembang, kuantitas dan kualitas prestasi kerja pada
akhirnya mengalami penurunan.
Pengidentifikasian
awal dari kecanduan alkohol adalah penting karena prognosis untuk pengobatan
yang berhasil lebih menguntungkan jika pengobatan dimulai pada tahap awal
penyakit tersebut. Para manajer dapat melihat berbagai ciri orang kecanduan
alkohol, yang meliputi :
1. Pola
keabsenan yang berlebihan: Senin, Jum’at, dan hari-hari sebelum dan sesudah
hari libur.
2. Ketidakhadiran
yang sering dan tidak dapat dimaafkan.
3. Datang
terlambat dan pulang lebih awal.
4. Pertimbangan
dan keputusan buruk.
5. Penampilan
pribadi yang lusuh.
6. Meningkatnya
kegugupan dan tangan yang tiba-tiba menggigil.
7. Meningkatnya
tuntutan biaya rumah sakit, dokter, operasi.
Tanda-tanda ini
dapat menunjukkan masah agar manajer siap siaga. Penting bagi manajer untuk
memahami bahwa stress pekerjaan dapat menimbulkan kebutuhan seseorang akan
penggunaan alkohol. Juga penting bagi manajer untuk mengetahui bahwa bantuan
para ahli perlu diterapkan lebih awal jika orang yang bersangkutan ingin
diobati dengan berhasil. Selanjutnya, meskipun penggunaan alkohol berkembang
sebagai tanggapan terhadap stress dan membantu menghilangkan stress tersebut,
jika pola penggunaan berkembang menjadi kecanduan alkohol, maka dengan
meminumnya dapat menjadi sumber stress.
Penyalahgunaan Obat-obatan (Drug Abuse). Organisasi pada
akhirnya menyadari adanya masalah penyalahgunaan obat-obatan. Beberapa perusahaan telah mengakui bahwa
penyalahgunaan obat-obatan terjadi di tempat kerja dan mereka telah menggunakan
berbagai cara untuk memberantas masalah tersebut. Anjing-anjing pelacak
obat-obatan untuk menggeledah tempat kerja telah digunakan oleh Mobay Chemical
Corporation di Baytown, Texas. Humprey & Associates, sebuah perusahaan
kelistrikan di Dallas, mengadakan tes darah terhadap siapa saja yang mendapat
kecelakaan di tempat kerja, dan Sunkist Product Group of Ontario, California,
mengharuskan karyawan yang berperilaku aneh di tempat kerja, mengambil tes air
seni. Jenis program deteksi obat-obatan tersebut telah mendapat kritik dan
menimbulkan masalah hukum yang serius. Akan tetapi, semakin banyak organisasi
yang bergabung dalam aksi anti obat-obatan demi kemanusiaan dan karena jumlah
kerugian akibat penyalahgunaan obat-obatanyang besar yang diperkirakan $16,6
milyar setahun.
Salah satu penyebab
penyalahgunaan obat-obatan ialah stress yang bermula dari pekerjaan. Perangsang
dan halusinogen (seperti ganja dan cocaine), narkotik (seperti heroin dan
Demerol), dan obat penenang hipnotis (obat bius tidur dan valium) digunakan
oleh karyawan dari seluruh lapisan pekerjaan untuk menghilangkan kebosanan,
stress yang berlebihan, dan masalah yang berkaitan lainnya. Agar dapat
memberantas penyalahgunaan obat-obatan, manajer pertama-tama harus mengakui
bahwa stress yang berkaitan dengan pekerjaan dapat menjurus atau menimbulkan
penyalahgunaan obat-obatan. Selanjutnya, menjadi kepentingan manajer untuk
memberantas penyalahgunaan obat-obatan tersebut melalui suatu program yang
manusiawi dan efektif. Sayangnya, penyalahgunaan obatobatan tidak terjadi di
tempat kerja, tetapi juga di seluruh masyarakat. Pemberantasan obat-obatan
mengharuskan manajer untuk memusatkan perhatian utamanya pada dampak penggunaan
obat tersebut atas prestasi kerja. Saran-saran lain yang didasarkan atas
pengalaman perusahaan yang berjuang melawan penyalahgunaan obat-obatan ialah :
1. susun
dan kominasikan kebijaksanaan yang jelas tentang pengunaan obat obatan. Manajemen
harus meberitahu karyawan tentang risiko kesehatan dan keselamatan yang
disebabkan oleh obat- obatan dan bahaya yang mengancam di tempat kerja karena
penyalahgunaan obatobatan. Manajemen harus juga mengkomunikasikan bahwa
undangundang mewajibkan setiap orang untuk mematuhi hal itu.
2. Laksanakan
kebijaksanaan anti penyalahgunaan obat-obatan. Manajemen tingkat atas harus
mendukung para pengawas yang melaksanakan kebijaksanaan perusahaan tentang
obat-obatan.
3. Ketahui
lebih dahulu masalah tersebut dan jangan kaget karenanya. Perusahaan perlu
waspada tentang seriusnya masalah penyalahgunaan obat-obatan di dalam
masyarakat. Rumuskan kebijaksanaan
tentang obat-obatan tersebut dan laksanakan secara konsisten.
4. Pelihara
hubungan yang baik dengan badan-badan yang melaksanakan peraturan
perundang-undangan. Polisi diperlukan untuk mengambil tindakan dalam kasus yang
bersangkutan dan harus dipandang sebagai suatu bagian dari tim yang berjuang
memberantas penyalahgunaan obat-obatan di tempat kerja.
5. Jangan
mencoba menangani masalah tersebut sendirian; carilah bantuan para ahli.
Kebanyakan organisasi kurang mempunyai kemampuan dan keahlian yang diperlukan
untuk menyelediki dan menemukan bukti penyalahgunaan obat-obatan.
Organisasi yang
telah mengembangkan dan menerapkan program anti obat-obatan telah menerima
peranan membantu karyawan yang mempunyai masalah obat-obatan yang ingin mencari
bantuan. Hal ini bukan hanya merupakan hubungan kepegawaian yang baik, tetapi
juga baik dar i sudut pandang ekonomi. Pelatihan kembali, mempekerjakan pegawai
baru, dan biaya arbitrasi dapat dihindarkan, dan program anti obat-obatan yang
dilaksanakan dengan baik dapat menimbulkan kesan yang menyenangkan.
Kesehatan Fisik dan Mental
Dari konsekuensi
stress yang potensial, konsekuensi fisiologis barangkali yang paling sering
diperdebatan dan secara organisasi tidak berfungsi. Mereka yang membuat
hipotesis adanya hubungan antara stress dan masalah kesehatan fisik, pada
akhirnya menyarankan bahwa suatu tanggapan emosional berakibat terjadinya
perubahan fisik seseorang. Sebenarnya sebagian buku teks medis mengungkapkan
bahwa antara 50 dan 75 persen penyakit berasal dari stress.
Barangkali yang
paling penting dari hubungan stress penyakit fisik yang potensial ialah
penyakit jantung koroner (coronary heart diseaseCHD). Meskipun sebenarnya tidak
dikenal dalam dunia industri 60 tahun yang lalu, CHD sekarang menjadi penyebab
setengah dari kematian yang terjadi di Amerika Serikat. Penyakit tersebut
begitu meluas sehingga pria Amerika yang sekarang berumur 45 dan 55 tahun
mempunyai kemungkinan 1 di antara 4 untuk mati karena serangan jantung, dalam
10 tahun mendatang.
Faktor-faktor resiko
tradisional seperti kegemukan, perokok, keturunan, kolesterol yang tinggi, dan
tekanan darah tinggi dapat menyebabkan tidak lebih 25 persen dari kejadian
penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, ada pendapat medis yang mulai
berkembang bahwa stress pekerjaan dan stress kehidupan mungkin merupakan
penyebab utama dari sisa yang 75 persen itu.
Bahkan tinjauan
singkat tentang konsekuensi kesehatan dari stress tidak akan lengkap tanpa
menyebutkan dampak kesehatan mental. Kornhauser meneliti secara luas kesehatan
mental para pekerja industri. Ia tidak menemukan hubungan antara kesehatan
mental dengan faktor-faktor seperti gaji, keamanan kerja, dan kondisi kerja.
Melainkan timbul hubungan yang jelas antara kesehatan mental dengan kepuasan
kerja. Esehatan mental yang buruk dihubungkan dengan frustasi yang timbul karena
tidak memperoleh kepuasan kerja.
Di samping frustasi,
kecemasan, dan depresi yang mungkin dialami seseorang mengalami stress yang
hebat, mungkin akan mewujudkan dirinya dalam bentuk kecanduan alkohol.
Kira-kira 5 persen dari penduduk dewasa punya masalah tentang minum alkohol,
ketergantungan akan obatobatan (lebih dari 150 juta resep obat-obatan ditulis
setiap tahun di A.S.), dirumahsakitkan(lebih dari 25 persen tempat tidur rumah
sakit diisi oleh orang-orang yang mempunyai masalah psikologis), dan kasus yang
ekstrim, bunuh diri. Bahkan gangguan mental yang minor yang ditimulkan oleh
stress, seperti ketidakmampuan berkosentrasi atau berkurangnya kemampuan
memecahkan masalah, dapat menelan biaya sangat mahal bagi suatu organisasi.
Sebelum kita mengkaji
bagian dari model stress dan kerja lebih terinci, perlu dikemukakan beberapa
hal yang penting diperhatikan. Model ini, atau setiap model yang mencoba
mengintegrasikan fenomena stress dan kerja, tidak seluruhnya lengkap. Terdapat
begitu banyak variabel penting sehingga pengobatan yang lengkap akan memerlukan
tempat lebih banyak. Selanjutnya variabel yang akan dibahas hanya diajukan
sebagai satu-satunya variabel yang menyediakan perspektif manajerial tentang
stress. Variabel-variabel tersebut tentunya bukan merupakan variabel yang tepat
untuk dipertimbangkan. Akhirnya, adanya ukuran yang tepat dan dapat dipercaya
benar-benar penting, karena program yang diprakarsai manajemen untuk
menanggulangi stress pada tingkatan yang optimal akan tergantung pada bagaimana
pengukuran variabel ini dan variabel lainnya.
Stressor Lingkungan Fisik (Physical Environmental Stressor)
Stressor (penekan)
lingkungan fisik sering diberi nama penekan kerah biru (blue collar stressor),
karena lebih merupakan masalah dalam pekerjaan-pekerjaan teknis. Lebih dari
14.000 pekerja meninggal setiap tahunnya dalam kecelakaan industri (hampir 55
orang per hari atau 7 orang setiap jam kerja); dan lebih dari 100.000 oarang
pekerja menjadi cacat permanen setiap tahun; dan karyawan melaporkan lebih dari
5 juta kecelakaan pekerjaan yang terjadi setiap tahunnya. Perkiraan baru dari
korban di tempat kerja kimiawi, radiasi, tekanan panas, dan bahan-bahan toxic
lainnya, mendorong lembaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (National
Institute of Occupational Safety and Health – NIOSH) membuat estimasi bahwa
100.000 pekerja mungkin mati setiap tahunnya karena penyakit (yang ditimbulkan)
industri yang seharusnya dapat dicegah.
Banyak pekerja teknis yang gugup dan tertekan oleh konsekuensi kesehatan
yang diduga keras karena bekerja pada pekerjaannya yang sekarang. Sejak
diundangkannya Undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational
Safety and Health Act – OSHA) pada tahun1970, sebagian dari stress yang dialami
seseorang telah berkurang. Pencapaian ini dapat ditelusuri dari meningkatnya
kesediaan para pengusaha atas ketentuan OSHA tersebut.
Tambahan lagi, banyak serikat buruh yang secara antusias
mendukung Undang-undang tersebut. Masalah masih tetap ada, dan pengadilan
membebani manajemen tanggung jawab atas stress yang berkaitan dengan lingkungan
fisik dan lingkungan kerja umumnya. Kompensasi imbalan yang ditentukan juri
telah meluas. Kita harapkan di masa akan datang peranan pengadilan akan lebih
penting.
Stressor Individu
Stressor pada
individu telah diteliti lebih lama dibanding kategori lain seperti disajikan
pada Gambar 6 – 2. Konflik peranan (role conflict) adalah stresssor individu yang
paling banyak diteliti secara luas. Konflik peranan terjadi bilamana
penyesuaian terhadap seperangkat harapan tentang pekerjaan bertentangan dengan
penyesuaian terhadap seperangkat harapan lain. Segi-segi konflik peranan
mencakup perasaan tidak menentu oleh tuntutan yang berlawanan dari seorang
penyelia (supervisor) tentang pekerjaan, dan mendapat tekanan agar bekerja sama
dengan orang yang anda rasa tidak bisa cocok. Tanpa memperhatikan apakah
konflik peranan disebabkan oleh kebijaksanaan organisasi atau dari orang lain,
konflik tersebut dapat menjadi penekan stressor) yang penting bagi sebagian
orang.
Khan dan kawan-kawan
melaporkan hasil suatu survei wawancara dari percontoh (sampel) nasional
tentang upah dan gaji karyawan pria, bahwa 48 persen dari peserta survei
mengalami konflik peranan. Dalam suatu studi dari Goddard Space Flight Center,
ditent ukan bahwa 67 persen dari karyawan melaporkan beberapa konflik peranan.
Studi juga menemukan bahwa para pekerja yang menderita lebih banyak konflik
peranan merasakan kepuasan kerja yang rendah dan ketegangan yang lebih tinggi
sehubungan dengan pekerjaan. Sangat menarik dicatat, para peneliti juga
menemukan bahwa semakin besar kekuasaan atau wewenang dari orang yang
mengirimkan pesan konflik peranan, semakin besar ketidak puasan kerja yang
diakibatkan oleh konflik peranan.
Suatu studi yang lebih besar dan bero rientasikan medis
menemukan bahwa bagi para pekerja ketatalaksanaan (white collar workers)
konflik peranan berkaitan dengan bacaan elektrokardiografik yang abnormal
(abnormal electrocardiographic readings). Dalam bab 8, Perilaku kelompok, kita
akan melihat bahwa konflik peranan juga ditemukan dalam konflik yang terjadi
dalam kelompok.
Agar mereka
melaksanakan pekerjaan dengan baik, para karyawan memerlukan keterangan
tertentu yang menyangkut hal-hal yang diharapkan untuk mereka lakukan dan hal-hal
yang tidak harus mereka lakukan. Karyawan perlu mengetahui hak-hak, hak-hak
istimewa, dan kewajibankewajiban mereka.
Ketaksaan peranan (role ambiguity) adalah kurangnya pemahan
atas hak-hak istimewa, dan kewajiban yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan
pekerjaan. Beberapa studi telah menunjukkan persoalan ketaksaan peranan. Dari
studi pada Goddard Space Flight Center, para administrator, insinyur, dan
ilmuwa mengisi skala stress ketaksaan peranan. Contoh-contoh darah, tekanan
darah, dan frekuensi denyut jantung telah diperoleh. Berdasarkan hal-hal itu
ditemukan bahwa ketaksaan peranan secara nyata berkaitan dengan rendahnya
kepuasan kerja dan perasaan ancaman dari pekerjaan terhadap kesejahteraan
mental dan fisik. Selanjutnya, semakin lebih tidak jelas peranan seseorang
dilaporkan, semakin rendah pemanfaatan keahlian intelektual, pengetahuan,
keahlian kepemimpinan orang tersebut.
Setiap orang pernah
mengalami “beban lajak pekerjaan” (work overload) pada suatu ketika. Beban
lebih tersebut mungkin terdiri atas dua jenis yang berbeda; kuantitatif atau
kualitatif. Terlalu banyak harus melakukan sesuatu tau tidak cukup waktu untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan adalah beban lajak kuantitatif (quantitatif
overload). Di lain pihak, beban lajak kuantitatif (quantitatif overload)
terjadi jika individu merasa bahwa ia kurang memiliki kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan atau standar prestasi terlalu tinggi.
Dari sudut pandangan kesehatan, penelitian sejak tahun
1958 menunjukkan bahwa beban lajak kuantitatif dapat menyebabkan perubahan
biokimia, khususnya kenaikan tingkat kolesterol dalam darah. Juga telah
dikemukakan bahwa beban lajak sangat berbahaya bagi mereka yang mengalami
kepuasan kerja yang sangat rendah. Studi lain menemukan beban lajak dikaitkan
dengan menurunnya kepercayaan diri, menurunnya motivasi kerja, dan meningkatnya
keabsenan. Beban lajak dapat juga tidak berakibat langsung menurunnya kualitas
pengambilan keputusan, rusaknya hubungan antarpribadi, dan meningkatnya
kecelakaan.
Suatu studi menguji
hubungan antara beban lajak, beban kurang, dan stress di antara 1.540 eksekutif
perusahaan besar. Para eksekutif yang dilaporkan memiliki jenjang stress rendah
dan tinggi mempunyai lebih banyak masalah medis yang penting. Studi tersebut
mengemukakan bahwa hubungan antara stressor, stress, dan penyakit mungkin
kurvalinier. Yaitu, mereka yang mempunyai beban kurang dan mereka yang
mempunyai beban lajak mewakili kedua ujung sebuah kontinuum, masing-masing
dengan masalah kesehatannya yang penting. Kontinuum beban kurang dan beban
lajak tersebut disajikan dalam gambar 6 – 3. Tingkat stress optimal menyediakan
keseimbangan yang terbaik antara tantangan, tanggung jawab, dan imbalan.
Gambar 6 – 3
Kontinum Beban Kurang/Beban Lajak

Beban kurang Prestasi optimal Beban lebih
•
Kebosanan
• Motivasi
yang menurun
•
Keabsenan
• Sikap acuh
|
•
Motivasi tinggi
•
Tenaga kuat
•
Persepsi tajam
•
Ketenangan
|
•
Sukar tidur
•
Sikap lekas marah
• Kesalahan
meningkat
•
Keragu-raguan
|
Setiap jenis tanggung
jawab dapat merupakan beban bagi sebagian orang. Jenis tanggung jawab yang
berbeda berfungsi sebagai stressor dengan cara yang berbeda pula. Salah, satu
cara mengkategorikan variabel ini ialah dalam ukuran tanggung jawab terhadap
orang versus tanggung jawabterhadap barang. Juru rawat unit perawatan intensif,
ahli bedah syaraf, dan pengawas lalu lintas udara masing-masing mempunyai suatu
tanggung jawab yang besar terhadap manusia. Suatu studi mendukung hipotesis
bahwa tanggaung jawab terhadap manusia menimbulkan stress pekerjaan. Semakin
besar tanggung jawab seseorang dilaporkan, semakin besar kemungkinan orang
tersebut banyak merokok, mempunyai tekanan darah tinggi, dan menunjukkan
kenaikan tingkat kolesterol. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab karyawan
yang bersangkutan terhadap barang, semakin rendah pula indikator tersebut.
Stressor Kelompok (Group Stressor)
Keefektifan setiap
organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan antara kelompok. Terdapat banyak
karakteristik kelompok yang dapat menjadi stressor kuat bagi sebagian individu.
Sejumlah ahli ilmu perilaku telah mengemukakan bahwa hubungan yang baik di
antara anggota suatu kelompok kerja merupakan faktor sentral bagi kesejahteraan
individu. Hubungan yang buruk mencakup rendahnya kepercayaan, rendahnya
dukungan, dan rendahnya minat untuk mendengarkan dan mencoba menanggulangi
masalah yang dihadapi seorang karyawan. Studi di bidang ini telah mencapai
kesimpulan yang sama: ketidakpercayaan terhadap rekan kerja berkaitan secara
positif terhadap tingginya ketaksaan peranan, yang menjurus pada kurangnya
komunikasi di antara orang-orang dan kepuasan kerja yang rendah.
Stressor Keorganisasian (Organizational Stressor)
Masalah dalam
mempelajari stressor keorganisasian ialah pengidentifikasian stressor yang
paling penting. Partisipasi dalam pengambilan keputusan dianggap sebagai bagian
pekerjaan yang penting di dalam organisasi bagi sebagian individu. “Partisipasi”
menunjukkan tingkat dimana pengetahuan, pendapat, dan ide seseorang
diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Partisipasi dapat
menyebabkan stress. Sebagian orang merasa frustasi dengan penangguhan yang
sering dikaitkan dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Yang lainnya
mungkin memandang bahwa ikut serta dalam pengambilan keputusan merupakan
ancaman terhadap hak-hak tradisional seorang penyelia atau manajer yang
mempunyai hak untuk mengambil keputusan akhir.
Struktur organisasi merupakan stressor lain yang jarang diteliti.
Studi yang dilakukan terhadap pramuniaga menguji dampak tatanan tinggi
(struktur birokratis), medium, dan datar (struktur yang kurang kaku) atas
kepuasan kerja, stress, dan prestasi. Studi tersebut menunjukkan bahwa
pramuniaga dari tatanan yang strukturnya kurang birokratis kurang mengalami
stress, lebih banyak mengalami kepuasan kerja, dan berprestasi lebih efektif
dibandingkan dengan pramuniaga dari struktur medium dan tinggi.
Sejumlah penelitian
telah menguji hubungan antara tingkat organisasi dengan dampak kesehatan.
Sebagian besar penelitian ini mengajukan gagasan bahwa resiko terkena masalah
kesehatan seperti penyakit jantung koroner meningkat sejalan dengan tingkatan
organisasi.
Akan tetapi, tidak semua peneliti mendukung gagasan bahwa
semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki organisasi, semakin besar
risiko kesehatannya. Suatu studi dari karyawan Du Pont menemukan kejadian
penyakit jantung berhubungan secara terbalik dengan tingkat gaji.
Sifat dari
klasifikasi yang digunakan dalam studi tersebut menimbulkan kebingungan tentang
hasilnya. Sekarang kecenderungannya adalah mengkaji komponen-komponen pekerjaan
yang penting lebih mendalam, sebagai cara untuk menjelaskan dampak stress.
Sebagai contoh, beberapa studi telah mencoba menilai apakah meningkatnya
ketidakaktifan atau intelektualitas dan tuntutan emosional pekerjaan berakibat
besar terhadap meningkatnya risiko penyakit jantung koroner. Studi terdahulu
menyumbang terhadap bentuk analisis dalam arti bahwa studi itu menemukan bahwa
pengemudi bis kota (pekerjaan terus duduk) dan kondektur (pekerjaan aktif)
mengidap penyakit jantung koroner lebih tinggi dibanding rekannya di daerah
pinggiran kota. Lebih banyak lagi penelitian yang diperlukan untuk menentukan
apakah tuntutan pekerjaan emosional lebih kuat dibandingkan dengan
ketidakaktifan dalam menjelaskan kejadian masalah kesehatan.
Kita hanya
mempertimbangkan percontoh yang kecil dari sejumlah besar riset keperilakuan
dan medis yang tersedia tentang stressor, stress, dan kaitan dampaknya.
Keterangan yang diperoleh berlawanan dalam beberapa kasus, seperti riset
keorganisasian lainnya. Akan tetapi, apa yang diperoleh mengisyaratkan sejumlah
hal penting, yaitu :
1.
Terdapat hubungan antara stressor di tempat
kerja dengan perubahan fisik, psikologis, dan emosional seseorang.
2.
Tanggapan yang adaptif terhadap stressor di
tempat kerja telah diukur dengan penilaian diri, penilaian prestasi, dan tes
biokimia. Lebih banyak lagi pekerjaan harus dilakukan untuk mengukur stress
secara tepat di tempat kerja.
3.
Tidak terdapat daftar urutan stressor yang
berlaku secara universal. Setiap organisasi mempunyai perangkat keunikan
tersendiri yang harus diteliti.
4.
Perbedaan individu menunjukkan mengapa stressor
yang sama yang mengganggu dan tidak dapat ditanggulangi seseorang bersifat
menantang terhadap orang lainnya.
MODERATOR (Penengah)
Stressor
mengakibatkan tanggapan berbeda dari orang yang berbeda. Sebagian orang lebih
mampu mengatasi suatu stressor dibandingkan yang lain, mereka dapat
mengadaptasikan perilaku mereka sedemikian rupa sesuai dengan arah stressor. Di
lain pihak, sebagian orang dipengaruhi oleh stress, yaitu mereka tidak dapat
beradaptasi dengan stressor.
Model yang disajikan dalam Gambar
6 – 2 menunjukkan bahwa berbagai faktor menengahi hubungan antara stressor dan
stress. Moderator adalah suatu kondisi, perilaku, atau karakteristik yang
memenuhi syarat hubungan antara dua variabel. Dampaknya mungkin menguatkan atau
melemahkan hubungan tersebut. Hubungan antara jumlah liter bensin yang
digunakan dengan total kilometer yang dilalui, dipengaruhi oleh variabel
kecepatan (moderator). Demikian juga halnya, kepribadian seseorang dapat
menengahi atau mempengaruhi tingkat individu mengalami stress sebagai
konsekuensi terjadinya hubungan dengan stressor tertentu. Nah begitulah yang bisa Indotech.me berikan kali ini, semoga bermanfaat bagi pembaca semua nya . See ya !

COMMENTS